Inilah Kisah di Balik Sukses Guardiola


Barcelona amat bersyukur punya Pep Guardiola. Sebagai pemain dia menghidupkan permainan, sebagai pelatih dia mendatangkan kebesaran. Dan, ternyata kehebatan Pep sebagai pelatih sudah diendus Barcelona sejak dia masih bermain.

Hal itu terungkap di buku karangan Graham Hunter, berjudul The Making of The Greatest Team in The World. Disebutkan, pada 2003 terjadi pemilihan presiden di Barcelona. Joan Laporta sudah sejak awal diperkirakan bakal menang melawan saingan terberatnya, Luis Bassat.

Sebenarnya, waktu itu salah satu kamopanye Bassat adalah mengangkat Pep Guardiola menjadi pelatih Barcelona. Padahal, saat itu Guardiola masih bermain dan membela AS Roma.

Namun, Bassat melihat bakat besar Guardiola sebagai pelatih. Maka, ia akan memfasilitasinya untuk kursus dan mendapatkan izin melatih, kemudian benar-benar menangani Barcelona. Di tangannya, Bassat yakin Guardiola bisa membawa kebesaran. Sebab, dia besar di Barcelona dan tahu banyak klub itu, selain memiliki kecerdasan luar biasa.

“Ketika ikut pemilihan prsiden pada 2003, saya pergi ke Roma untuk merekrutnya. Saya tahu dia orang cerdas yang mencintai Barcelona dan akan bekerja keras untuk klub ini. Kami berbicara enam jam dan dia tertarik dengan konsep saya. Waktu itu, dia memang belum memiliki persyaratan formal sebagai pelatih. Dia belum punya izin,” ungkap Bassat.

“Maka, saya mengubah pikiran, tapi tetap menempatkannya sebagai pelatih masa depan Barcelona. Dia akan menjadi pelatih brilian, dan ternyata sekarang memang pelatih yang brilian,” puji Bassat.

Pada pemilihan itu, Bassat kalah dari Laporta. Guardiola pun meneruskan karier bermainnya di Liga Serie-A dan memeprsiapkan karier pelatih. Dia akhirnya mendapat lisensi kepelatihan dan kemudian menangani Barcelona B.

Pada 2007, para penasihat Laporta, Johan Cruyff sdan Txiki Begiristain, dan Evarist Murtra, memutuskan memutuskan untuk menunjuk Guardiola sebagai pelatih Barcelona B. Suasana klub sempat panas. Sebab, ia belum terbukti. Apalagi, dia digadang menggantikan Frank Rijkaard yang prestasinya mulai menurun.

Pada resentasi sebelum ditunjuk sebagai pealtih Barcelona B, Guardiola mengatakan, “Karier saya sebagai pemain telah berlalu. Sebagai pelatih, saya bukan siapa-siapa dan harus memulai dari ol. Hanya kemenangan yang akan membangun kredibilitas saya. Itulah cara saya untuk tumbuh sebagai pelatih. Prioritas saya adalah terus memproduksi pemain-pemain kelas dunia. Tapi, jika saya tak menang dan tak meraih prestasi, maka saya tak akan meneruskan melatih di sini.”

Guardiola kemudian menyatakan terima kasih kepada Barca karena memberi kepercayaan sebagai pelatih tim B,  “Jika Barcelona tak memperhatikan saya, maka saya hanya duduk-duduk di rumah. Hal pertama yang ingin saya lakukan adalah mentrasformasikan kebanggaan dan kehormatan yang pernah saya rasakan karena menjadi bagian dari klub ini. Tim memang berada di Divisi III, tapi mereka harus berpikir untuk membuka pintu ke divisi di atasnya.”

Lalu di Mini Estadi, 100 meter dari Nou Camp, para pemain muda pun semangat berlatih di bawah asuhan Guardiola. Sering terdengar, Guardiola teriak, “Saya tak ingin kalian mencoba mendribel bola seperti Lionel Messi. Passing, passing, dan passing secepat dan seakurat mungkin. Bergerak, passing lagi, pasingpassingpassing!”

“Saya ingin kalian bergerak dengan cerdas, membuat umpan yang akurat. Itulah cara kita membuat perbedaan dibanding klub lain. Itu yang ingin saya lihat,” perintah Guardiola kepada para pemain.

Guardiola kemudian menerapkan formasi 4-3-3. Tapi, bisa segera berubah menjadi 3-4-3. Sebuah formasi dan gaya menyerang yang tajam. Sebab, kadang-kadang Barcelona B seolah memiliki 5 penyerang. Wing back bisa menjadi gelandang sayap. Sementara gelandang sayap bisa terdorong menjadi penyerang. Saat tertekan, gelandang sayap bisa ikut turun bertahan.

Hasilnya, daalam 21 pertandingannya di Divisi Tercera (Divisi III), Barca B  tak terkalahkan di kandang. Mereka akhirnya menjuarai Divisi III dan berhak tampil di Divisi Segunda B.

Sejak itu, Guardiola mendapat pengakuan dan dianggap menjadi penerus Frank Rijkaard yang tepat. Benar juga, Barcelona akhirnya tak ragu menunjuk Guardiola untuk menggantikan Rijkaard pada 2008.

Di tangan Guardiola, Barcelona menjadi tim paling menakutkan dan indah di dunia. Mereka terus mengumpulkan gelar demi gelar. Hampir semua gelar sudah didapat Barcelona di bawah kepelatihan Guardiola.

Juara Divisi Primera La Liga tiga kali berturut-turut (2008–09, 2009–10, 2010–11), juara Copa del Rey 2008-09, juara Piala Super Spanyol tiga kali (2009, 2010, dan 2011), juara Liga Champions dua kai (2008-09, 2010-11), juara Piala Super Eropa dua kali (2009, 2011), dan juara Piala Dunia Klub dua kali (2009 dan 2011).

Sukses besar yang sulit ditiru pelatih lainnya. Hanya dalam tiga tahun, dia sudah menghadirkan 13 gelar bergengsi. Proficiat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: