Ini Dia Cara Baru Deteksi Awal HIV


 Headline

Kasus penularan HIV/AIDS seringkali terjadi karena banyak orang yang belum tahu bahwa seseorang di sebuah komunitas sudah tertular virus mematikan itu.

Nah, bila selama ini deteksi dini HIV/AIDS hanya dilakukan dengan tes darah, maka dalam upaya meningkatkan metode untuk deteksi dini HIV, para peneliti mencoba melakukan penelitian dan menemukan cara yang sama akuratnya dengan skrining melalui darah, yakni lewat gusi.

Sebuah studi baru yang dilakukan peneliti di McGill University, Quebec, menemukan bahwa HIV bisa dideteksi dengan alat yang ditempelkan ke gusi. Alat tersebut diberi nama OraQuick HIV1/2. Bagaimana cara kerjanya ?

OraQuick HIV1/2 tidak menggunakan air liur melainkan menyerap antibodi secara langsung dari pembuluh darah di selaput lendir mulut. Alat tes akan menarik antibodi HIV dari jaringan di pipi dan gusi, Anda cukup menunggu 20 menit untuk melihat hasilnya.

“Pengujian adalah landasan pencegahan, pengobatan dan strategi perawatan. Walaupun penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa pengujian berbasis cairan OraQuick HIV1/2 memiliki janji besar, kami yang pertama yang mengevaluasi potensi di tingkat global,” jelas Dr Nitika Pant Pai, pemimpin studi dari McGill University.

Hasil studi yang diterbitkan dalam The Lancet Infectious Diseases edisi minggu ini, memiliki implikasi besar bagi negara-negara yang ingin mengadopsi strategi pengujian diri untuk HIV.

Tes HIV secara oral (lewat mulut) telah menjadi salah satu tes paling populer karena penerimaan dan kemudahan penggunaan. Pengujian dengan cara ini bisa non-invasif (tidak merusak), bebas rasa sakit dan lebih nyaman bagi pengguna.

“Melakukan tes HIV di klinik publik membuat orang enggan karena visibilitas, stigma, kurangnya privasi dan diskriminasi. Sebuah pilihan pengujian rahasia seperti pengujian mandiri (dengan alat OraQuick HIV1/2) bisa mengakhiri stigmatisasi terkait dengan tes HIV,” tutur Dr Pai.

“Tes HIV oral dapat menjadi alat yang ampuh untuk populasi berisiko tinggi, tapi pengujian mandiri harus disertai dengan keterkaitan dengan perawatan untuk mencapai hasil kesehatan yang baik,” kata Dr Rosanna Peeling, co-penulis studi dari London School of Hygiene & Tropical Medicine.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: