Bullying Antar Remaja Putri Masih Terus Menghantui


13286900291563582074

Kasus bullying di kalangan remaja, khususnya remaja putri semakin marak diberitakan akhir-akhir ini. Masih ingat kan sama geng Nero (neko- neko dikeroyok) di Pati, Jawa Tengah yang sempat bikin heboh karena aksi sadis dan ganasnya saat merekrut anggota baru? Kemudian November 2011 lalu, juga beredar video kekerasan antar pelajar putri di Palu, Sulawesi Tengah, yang dilatarbelakangi karena rebutan pacar. Dan sekarang kasus serupa kembali terjadi di Bali yang videonya udah beredar ramai beberapa hari terakhir. Dalam video, pelaku yang terdiri dari tujuh gadis ABG dan tergabung dalam geng motor ini terlihat memukul dan menggunting baju dan celana korban (15) sampai hampir telanjang.
Maraknya penganiayaan dan pelecehan yang terjadi pada cewek ABG sebenarnya bukanlah masalah baru. Kasus ini udah lama terjadi, hanya kasusnya saja yang ditutup-tutupi sehingga tidak terjamah publik. Banyak korban yang merasa dilecehkan dan dianiaya nggak berani lapor kepada pihak penegak hukum. Akibatnya, kasus ini pun kembali terulang.
Masa remaja merupakan fase dimana mereka masih mencari konsep dan identitas diri. Hal ini kemudian ditandai dengan keinginan mereka untuk membentuk kelompok-kelompok dalam pergaulan di luar pengawasan orang tua dan keluarga, entah itu kelompok di lingkungan sekolah maupun di luar. Nggak hanya terbatas pada cowok, cewek ABG pun juga bertindak seperti itu. Ada keinginan dari diri remaja untuk diakui oleh sesamanya dan diterima dalam suatu komunitas. Makanya nggak heran kalau kemudian banyak geng yang bermunculan.
Saya jadi ingat waktu saya kelas 6 SD, saya sama tujuh teman saya pernah ngelakuin aksi bullying ke adik kelas yang saat itu masih kelas 4. Sebenarnya kami nggak punya masalah sih sama si adik kelas itu, cuma dulu kami ngerasa itu anak tengil banget, kecentilan, terus cara jalannya yang “sok” gitu bikin kami gerah ngeliatnya. Nah, karena kami adalah senior dan ngerasa paling gede di sekolah, kami mulai deh nyindir-nyindir setiap kali ketemu sama si adik kelas. Dengan pandangan sinis, kami ngeliatin anak itu dari atas sampe bawah, dari ujung rambut sampe telapak kaki. Udah berasa jagoan lah pokoknya.
Eh, ternyata si jagoan kena batunya juga. Si adik kelas ngelaporin tingkah laku kami ke mamanya. Mamanya datang ke sekolah dan “ngelabrak” kami. Waktu itu kejadiannya pagi-pagi sebelum masuk kelas. Pas lihat mamanya, kami langsung ngibrit, lari ke toilet, maksudnya pengen ngumpet. Tapi dikejar juga sama mamanya. Yasudah, kami cuma bisa pasrah. Mamanya nasehatin kami supaya nggak berlaku kayak gitu lagi ke anaknya. Dan setelah itu kami memang nggak berani macem-macem lagi. Padahal sekarang kalau dipikir-pikir, justru saya dan teman-teman itu yah yang kebanyakan gaya.
Kemudian sewaktu saya SMA, ada peraturan yang turun-temurun kalo murid kelas 10 nggak boleh lewat koridor kelas 12 dan lapangan tengah. Ruang kelas untuk anak kelas 12 terletak di lantai 1, berhadapan dengan lapangan tengah, dan itu harus steril sama adik-adik kelas. Pernah suatu kali saat saya kelas 10, teman saya yang belum tahu aturan tersebut dengan santainya lewat lapangan tengah. Langsung aja teman saya dipanggil sama geng cewek kelas 12 yang memang udah terkenal aksinya “ngelabrak” sana-sini.
Walaupun nggak terjadi pemukulan, pihak sekolah tetap memanggil orang-orang yang bersangkutan. Pihak sekolah sendiri juga sebenarnya melarang senioritas itu ada di sekolah. Dengan larangan dan sosialisasi dari kepala sekolah dan guru, akhirnya peraturan itu lama-kelamaan pudar. Dan saat saya kelas 12 pun udah nggak ada lagi yang namanya peraturan aneh itu.
Permusuhan dan perkelahian di dalam pergaulan emang nggak bisa dihilangkan sepenuhnya. Tapi setidaknya hal tersebut bisa dihindari dan diminalisir. Wajar-wajar aja sih ketika beberapa anak remaja membentuk kelompok atau geng. Karena intensitas pertemuan mereka yang sering, seringnya menghabiskan waktu bermain bersama, cerita-cerita, mereka pun akhirnya merasa cocok dan kompak satu sama lain.
Selama kegiatan-kegiatan dalam geng tersebut berjalan positif, misalnya sebagai sarana belajar kelompok dan menjalin hubungan persahabatan yang baik, hal itu memang nggak jadi masalah. Tapi pada kenyataannya banyak geng yang malah menyimpang dan menunjukkan kekuatannya dengan menindas yang lemah. Masa remaja memang masa yang labil dan penuh gejolak. Apalagi sifat iri dan cemburu yang sangat rentan pada cewek-cewek ABG. Banyak toh yang karena takut kalah saing kepopulerannya, karena kecemburuan sosial, atau karena masalah rebutan cowok, mereka nggak segan-segan melakukan aksi bullying. Dengan alasan membela teman segeng, mereka pun rela ikut-ikutan menganiaya si korban.
Memang rasanya nggak gampang untuk menanggulangi masalah bullying di kalangan remaja, yang dalam hal ini adalah remaja putri. Pada hakikatnya manusia itu terlahir sebagai makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan orang lain. Nggak mungkin juga kan orang tua melarang remaja putrinya untuk bergaul demi menghindari hal tersebut. Kembali lagi, peran orang tualah yang menjadi dasar dalam perkembangan sikap, perilaku, dan moral si anak. Peranan sekolah juga nggak kalah pentingnya. Nggak hanya pembelajaran dalam aspek kognitif aja, pendidikan budi pekerti dan pembinaan karakter sangat penting dilakukan di sekolah.
Terlebih bagi pribadi remaja itu sendiri. Udah bisa membedakan mana yang baik dan buruk seharusnya juga bisa memilih pergaulan mana yang membawa dampak positif pada dirinya. Rasa tanggung jawab, pengendalian diri, dan sikap mawas diri harus selalu dijaga. Jangan sampai hanya karena ikut-ikutan teman, malah bikin malu diri sendiri dan keluarga.

Read more: http://spotmenarik.blogspot.com/2012/03/bullying-antar-remaja-putri-masih-terus.html#ixzz1ov4t7AMU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: