Penyakit Jantung Hanya Milik ‘Orang Miskin’?


Jakarta – Penyakit jantung atau yang lebih mengarah pada serangan jantung menjadi momok yang menakutkan karena bisa menyerang siapa saja, terlebih pada rakyat miskin.
Headline
Dilansir Telegraph, disebutkan penurunan angka kematian akibat serangan jantung pada anggota masyarakat yang termiskin masih belum secepat masyarakat yang paling makmur.

“Peningkatan angka kasus obesitas dan tingkat penyakit diabetes tipe 2 pada masyarakat miskin menangkal efek positif dari layanan pengobatan yang lebih baik,” kata Madhavi Bajekal, seorang peneliti di University College London.

Di antara masyarakat yang kondisi finansialnya paling mapan, angka kematian akibat penyakit kardiovaskularnya telah menurun dari 177 kematian per 100.000 orang pertahunnya pada tahun 2000 menjadi 109 kasus pada 2007.

Penurunannya sebesar 38%. Sedangkan di antara masyarakat yang kondisi finansialnya paling memprihatinkan, angka kematiannya menurun dari 306 per 100.000 pertahun pada tahun 2000 menjadi 215 kasus pada 2007. Penurunannya relatif sebesar 30%.

Sementara itu, penelitian lain menyebutkan, orang berstatus sosial ekonomi rendah jauh lebih mungkin terkena penyakit jantung dari pada mereka yang berpendapatan besar.

Penelitian ini juga menunjukkan, risiko ini terus berlanjut bahkan bila ditambah sejumlah faktor risiko seperti merokok, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi.

“Orang dengan status sosial-ekonomi rendah harus lebih memantau risiko penyakit jantung,” kata Peter Frank, UC Davis profesor kedokteran keluarga dan komunitas dan penulis utama studi tersebut.

Menurut Frank, meskipun diketahui bahwa orang dengan status sosial-ekonomi rendah memiliki risiko lebih besar untuk mengembangkan penyakit jantung dan masalah kesehatan lainnya, alasannya yang sering dikaitkan yakni faktor kurangnya akses kesehatan.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam BMC Cardiovascular Disorders edisi Agustus 2011 menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya peningkatan risiko dalam jangka panjang mampu perbaikan kedalam faktor-faktor risiko lain, sehingga akses dan kepatuhan tidak dapat menjelaskan perbedaan.

Menurutnya, kerugian sosial dan kesulitan di masa kecil dapat mengakibatkan berlangsungnya adaptasi dan menyebabkan risiko lebih besar terkena masalah jantung.

Efek kumulatif dari kerugian sosial sepanjang umur juga bisa menyebabkan ‘kehausan’ pada sistem kardiovaskular. [mor]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: